Dalam era teknologi serba digital dan gadget sekarang ini, banyak orang melupakan buku, teman lama yang telah menjadi sumber utama hiburan dan rekreasi jauh sebelum masa ini. Bahkan mencium bau buku baru pun sudah memberikan efek menenangkan bagi sebagian orang.

Sudah lama kita mendengar, membaca buku memberikan efek positif terhadap kesehatan mental. Kini, semakin banyak bukti klinis yang menyatakan membaca dapat membantu seseorang mengatasi kesepian dan pengucilan sosial. Bahkan sebuah distrik di Inggris membuat suatu skema di mana dokter spesialis kejiwaan atau psikiater dapat meresepkan buku kepada pasien mereka. Tentunya bukan buku sembarangan. Judul buku yang diresepkan diambil dari daftar yang telah disusun oleh para ahli kesehatan mental.

Buku sebagai penyembuh punya sejarah panjang. Konsep ini berasal dari 300 SM, ketika peradaban kuno menempatkan prasasti di pintu masuk perpustakaan. Prasasti itu menyatakan isi bangunan itu (perpustakaan) menyembuhkan jiwa. Aristoteles pun menganggap sastra memiliki manfaat penyembuhan dan membaca fiksi adalah cara mengobati penyakit.

sejarah kesehatan dengan membaca

Pada masa Perang Dunia I, konsep ini kembali digunakan. Saat itu para perawat, dokter, dan pustakawan relawan berjuang untuk mengobati para prajurit, yang tak hanya terluka tubuhnya, namun juga pikirannya.

Helen Mary Gaskell, seorang Inggris pelopor pengasuhan sastra (literary caregiving) di masa itu mendirikan perpustakaan perang. Perpustakaan itu kemudian berafiliasi dengan Palang Merah dan beroperasi pula di negara-negara lain. Lalu berdiri pula perpustakaan di rumah sakit militer. Salah seorang pengelolanya, Elizabeth Robins mengungkapkan, mereka belajar, cara terbaik, bahkan seringkali menjadi satu-satunya cara untuk menyembuhkan tubuh seseorang adalah dengan melakukan sesuatu untuk pikiran mereka.

Buku yang saat itu paling laris dibaca para prajurit yang terluka atau korban perang adalah buku mengenai pacuan kuda karya mantan wartawan, Nat Gould. Buku laris lainnya adalah karya-karya Rudyard Kipling, Marie Corelli, dan Robert Louis Stevenson.

Sebuah lembaga amal, The Reading Agency, juga mendorong orang untuk gemar membaca. Menurut kepala eksekutifnya, Sue Wilkinson, gagasan membaca buku bukan sesuatu yang revolusioner, namun tak banyak orang yang menyadari dampak nyatanya terhadap kesehatan.

manfaat membaca untuk menghilangkan stress

Sue mengutip hasil penelitian yang dilakukan Universitas Sussex yang menyebutkan membaca buku 68 persen lebih baik dalam menurunkan tingkat stres ketimbang mendengarkan musik, 100 persen lebih efektif daripada minum teh, 300 persen lebih baik daripada jalan-jalan, dan 700 lebih baik dari pada bermain game. Fantastis, ya?

Tak hanya membantu mengatasi stress, buku juga mengajarkan empati dan membantu mengatasi kecemasan. Saat membaca, seseorang cenderung untuk meghubungkan dirinya dan orang-orang yang Anda kenal dengan sifat-sifat dari karakter atau tokoh dalam buku yang dibacanya. Mencari kesamaan-kesamaan, mencoba memahami. Inilah kemudian yang membuat sesorang berusaha memahami dirinya dan orang-orang nyata di sekitarnya, yang memiliki sifat-sifat mirip dengan tokoh-tokoh fiktif dalam buku.

Dalam mengurangi rasa cemas, pikiran-pikiran yang menimbulkan kecemasan teralihkan oleh cerita, melalui karakter-karakter dalam buku. Kadang-kadang seperti memiliki seorang teman. Membaca mengurangi rasa keterasingan dan kesepian.

teknik meditasi sederhana dengan buku

Bagi orang-orang yang suka membaca buku, tentunya bukan sesuatu yang asing untuk merasa nyaman dan lebih baik segera setelah bersantai membaca buku. Ada perasaan, mereka merasa lebih baik pada hati dan jiwa mereka. Sangat wajar untuk merasa dekat dengan halaman-halaman yang mereka baca, mencari panduan dan sudut pandang dari situ, atau juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti “Apa kira-kira yang akan tokoh ini lakukan, jika berada dalam posisi saya?”

Kata-kata dalam buku juga dapat membantu seseorang menyadari emosinya dan buku membantu memberikan perspektif yang berbeda, serta saran untuk mengambil langkah alternatif. Buku juga dapat memberikan dampak hampir seperti meditasi, ketika seseorang membaca dengan menikmati irama kata-kata dan aliran kalimat.

Jadi, membacalah lebih banyak buku agar kesehatan mental kita lebih terjaga.

Kalau ingin mengetahui teknik membaca yang tidak butuh waktu lama, sehingga membaca tidak cepat membosankan, bisa mengikuti pelatihan Membaca Cepat yang diadakan oleh Presenta Edu.

Download Buku "Speed Reading for Beginners"

Bagaimana membaca 2 kali lebih cepat.
Telah didownload lebih dari 30.000 orang.
Download Sekarang.

GRATIS!